Blogroll

Sejarah

Asal usul nama Tlomar Menurut cerita dari para sesepuh Desa

Cocok Tanam

cocok tanam para petani Desa

Minggu, 04 Mei 2014

Oto-Oto’ Sarana Mencari Saudara yang Membingungkan


pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa
Maduracoorner.com.Bangkalan - Ada budaya lain yang pada awal berdirinya merupakan cara saudara-saudara Blater Madura untuk mengurangi pembunuhan tersebut, yakni Oto’-oto’. Oto’-oto’ adalah sejenis kumpul-kumpul atau perkumpulan dalam rangka mengumpulkan saudara satu kampung yang diisi dengan acara saling membantu satu dengan yang lain lewat sumbangan. Sumbangan yang berupa uang itu dikumpulkan dan menjadi modal usaha bagi penerimanya. Oto’-oto’ ini persis sama dengan arisan.


Pada awalnya budaya ini cukup topcer dan mampu meredam Carok. Karena apabila terjadi carok antara satu dengan yang lain, atau antara desa satu dengan yang lain, maka masing-masing tetuah blateran dari otok-otok tersebut akan berkumpul dan bermusyawarah untuk mencari penyelesaian soal carok tersebut. Dan terbukti banyak bermanfaat.
Sayangnya kegiatan ini kemudian bergeser dan bahkan terkadang muncul permasalahan baru. Yakni bagi mereka yang punya utang dari arisan tersebut, bisa timbul carok. Dan ini terjadi dibeberapa kasus. Bahkan tak jarang dari anggota tersebut kemudian kabur menjadi TKI. Celakanya lagi, sang tetuah yang mestinya sebagai penengah, ternyata ikut-ikutan memburu anggota yang mangkir tersebut. Inilah yang kemudian membingungkan. Karena yang berkembang kemudian, perkumpulan tersebut bukan sebuah ajang yang baik dan bisa jadi penengah, namun justru sebaliknya menambah permasalahan baru.
Kaum Blateran juga turut mewarnai politik kepemimpinan di tanah Madura. Hingga ada istilah yang jadi Klebun/Lurah itu harus dari kalangan Blater, kalau tidak maka akan banyak maling. Namun kenyataannya meski kalangan Blater yang menjadi lurah didesa tersebut, masih banyak yang terjadi maling-maling sapi di desa tersebut.
Banyak klebun Blater tersebut justru sibuk dengan remoh/oto’-oto’ dengan blater lainnya sehingga malas mengurus desanya. Bahkan yang paling parah justru terjadi sebagian lurah memelihara maling sapi untuk mencari keuntungannya sendiri.
Dewasa ini kaum blateran sudah mulai sedikit dan lurah dari kaum blateran sudah mulai terkikis. Hal tersebut terjadi oleh karena tingkat pendidikan mereka yang kini mulai memadai. Selain itu peraturan seorang lurah yang harus lulusan SLTA cukup mendongkrak kredibilitas lurah Madura.

Taman Paseban Mulai Terlihat Kumuh


KUMUH: Taman Paseban Bangkalan yang berada di Alun-Alun Bangkalan banyak sampah.
Taman Paseban Bangkalan yang berada di Alun-Alun Bangkalan banyak sampah.
BANGKALAN – Kebersihan di sekitar Taman Paseban Bangkalan yang berada di alun-alun kian kumuh. Pasalnya, sampah berserakan, sehingga kondisi tersebut dikeluhkan para pengunjung,  Jumat(2/5).
Syamsuri, 38, pengunjung taman mengaku, keberadaan sampah di taman tersebut terlihat kotor. Petugas kebersihan yang biasa bertugas secara rutin juga tidak ada. Petugas kebersihan hanya melakukan pembersihan satu minggu sekali.
”Kalau melihat sampah yang berserakan, Paseban ini seperti bukan taman. Padahal ini lokasinya berada di tengah-tengah kota, semua orang yang lewat di sini bisa mengetahuinya,  kondisi ini memalukan,” kata pria yang berprofesi menjadi sopir itu.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Bangkalan Ishak Sudibyo mengatakan, pihaknya sudah konsisten menjaga dan merawat Taman Paseban. Sudah ada petugaskhusus yang merawat taman di alun-alun tersebut.
”Kalau kebersihan, kami memang kesulitan menjaganya. Sebab, setelah dibersihkan, masyarakat tetap saja dengan kebiasaannya membuang sampah sembarangan. ”Kami berharap kepada masyarakatsaling menjaga dan memiliki taman ini,” harapnya. (c4/ril)

Kamis, 01 Mei 2014

Wabup: Kades Harus Berperan Aktif Tarik Pajak

BUP-WABUP BANGKALAN
Bangkalan, 30/4 (Media Madura) – Wakil Bupati Bangkalan, Madura, Mundir Rofii mengatakan, Kepala Desa selaku ujung tombak Pemerintah Kabupaten Bangkalan harus berperan aktif dalam penarikan pajak bumi dan bangunan i dilapangan adalah Kades dimasing-masing desa. Karena mereka mempunyai pengalaman dan sebagai operator penarikan pajak di masyarakat,” ujar Bupati Bangkalan, Makmun Ibnu Fuad dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Bupati Bangkalan Ir, Mundir Rofi’I pada Launcing Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan tahun 2014 di halaman Dinas Pendapatan Bangkalan, Rabu, (30/4/2014).
Dijelaskan, dengan peralihan pajak bumi dan Bangunan ini, secara otomastis akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bangkalan. Sehingga kedepan  sumber PAD bangkalan bukan hanya dari sektor Restribusi dan perizinan, namun juga dari sektor Pajak PBB.
“Dengan peralihan PBB, Pemkab Bangkalan telah siap untuk merealisasikan, terutama dalam pencapaian target PBB,”tegasnya.
Dalam catatannya, Mundir memaparkan, pencapaian Taget PPB, juga perlu dukungan seluruh SKPD. Untuk menghimbau kepada staf dan anggotanya untuk peduli terhadap pentingnya membayar  pajak.
“Dan SKPD yang menjadi teladan, adalah Kecamatan Tanah Merah, yang mampu melunasi pajak sesuai target, sebelum akhir tahun,” ungkapnya.
Menurut Mundir, kedepan PAD Bangkalan juga akan mengalami peningkatan dari sektor Sumber Daya Alam (SDA) Migas yang saat dalam proses pengembangan.
“diharapkan dengan peningkalan PAD, ini bisa mensejahterakan masyarakat bangkalan,” harapnya.
Sementara itu diakhir acara, Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah beserta Pimpinan SKPD, secara simbolik melakukan pembayaran PPB secara langsung ke Bank Jatim. Louncing PPB ini juga dihadiri seluruh Pimpinan SKPD, Camat, Petugas Pemungut, Lurah/Kades, Notaris, Perbankan, Pengembang. (Sin/Ist/MM)